Akuntansi Persediaan: Definisi, Fungsi, Metode Pencatatan, dan Contohnya

Akuntansi persediaan merupakan bagian tak terpisahkan dari bisnis. Sebab, mengelola persediaan barang merupakan salah satu aspek penting dalam bisnis yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Tak hanya untuk memastikan kelancaran produksi, mengelola persediaan juga mempengaruhi keuangan perusahaan.

Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memiliki sistem akuntansi persediaan yang baik. Dengan begitu, perusahaan dapat memantau stok barang yang tersedia, memprediksi kebutuhan, dan menghindari kerugian akibat kerusakan atau kadaluwarsa.

Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang konsep dasar akuntansi persediaan dan bagaimana penerapannya dapat membantu mengoptimalkan kinerja perusahaan.

Apa yang Dimaksud dengan Akuntansi Persediaan?

Akuntansi persediaan adalah proses pencatatan, pengukuran, dan pelaporan kuantitas dan nilai persediaan barang yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu periode tertentu.

Persediaan atau inventaris merupakan aset yang dimiliki oleh perusahaan yang terdiri dari barang-barang yang dihasilkan atau dibeli dengan tujuan dijual atau digunakan dalam proses produksi.

Dalam akuntansi persediaan, perusahaan melakukan pencatatan persediaan dengan menggunakan metode yang berbeda-beda. Metode yang dipilih akan mempengaruhi nilai persediaan yang dicatat dalam laporan keuangan perusahaan.

Tujuan utama akuntansi persediaan adalah untuk memberikan informasi yang akurat tentang nilai persediaan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode tertentu, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat dalam mengelola persediaan mereka.

Informasi tentang persediaan juga sangat penting dalam menentukan nilai aset perusahaan dalam laporan keuangan mereka.

Baca juga: Brand Journey: Pengertian, Tahapan, dan Tips Membangunnya

Apa Saja Fungsi Akuntansi Persediaan?

Akuntansi inventaris memiliki beberapa fungsi penting bagi bisnis, di antaranya:

Membantu pengelolaan persediaan yang efektif dan efisien

Akuntansi inventaris membantu perusahaan dalam memantau persediaan yang dimilikinya.

Dengan mengetahui kuantitas dan nilai persediaan, perusahaan dapat mengelola persediaan secara efektif dan efisien, mengoptimalkan penggunaan persediaan, dan menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

Mengoptimalkan pengambilan keputusan

Informasi yang diberikan oleh akuntansi persediaan dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang lebih baik terkait persediaan.

Dengan mengetahui kuantitas, nilai, dan rotasi persediaan, perusahaan dapat menentukan tingkat persediaan yang ideal dan memutuskan kapan sebaiknya melakukan pembelian atau produksi.

Meningkatkan pengendalian internal

Akuntansi inventaris dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan pengendalian internalnya terhadap persediaan, seperti memantau tingkat kerusakan atau kehilangan persediaan, mengendalikan akses ke persediaan, dan mencegah pencurian atau penyalahgunaan persediaan.

Menyediakan informasi untuk laporan keuangan

Informasi persediaan yang tercatat dalam akuntansi persediaan akan digunakan dalam menyusun laporan keuangan perusahaan, seperti laporan neraca.

Laporan keuangan yang akurat dan terpercaya sangat penting bagi para pemangku kepentingan, seperti investor, kreditor, dan pihak berwenang.

Dengan memahami fungsi akuntansi inventaris, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan persediaan mereka dan meningkatkan kinerja bisnis secara keseluruhan.

Baca juga: Mengenal Berbagai Jenis Aset dalam Akuntansi

Bagaimana Cara Penilaian Akuntansi Persediaan?

Metode penilaian persediaan digunakan untuk menentukan nilai persediaan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode akuntansi. Berikut adalah beberapa metode penilaian persediaan yang umum digunakan:

Metode persediaan perpetual

Metode persediaan perpetual merupakan metode penghitungan persediaan yang dilakukan secara terus-menerus dan real time.

Dalam metode ini, setiap kali terjadi transaksi pembelian atau penjualan persediaan, informasi tersebut dicatat langsung pada sistem informasi persediaan perusahaan.

Dalam metode persediaan perpetual, informasi mengenai persediaan yang ada, biaya pembelian, biaya produksi, dan biaya penjualan selalu tersedia dan akurat pada setiap saat.

Oleh karena itu, metode ini memungkinkan perusahaan untuk memantau dan mengendalikan persediaan secara efektif.

Metode persediaan periodik

Metode persediaan periodik merupakan metode penghitungan persediaan yang dilakukan pada akhir periode akuntansi.

Dalam metode ini, persediaan dihitung dengan cara menghitung selisih antara persediaan awal dan persediaan akhir periode dengan menambahkan pembelian dan mengurangi penjualan.

Dalam metode persediaan periodik, informasi mengenai persediaan dan biaya pembelian tidak tersedia secara real time. Sebaliknya, informasi tersebut dikumpulkan dan dihitung pada akhir periode akuntansi.

Oleh karena itu, metode ini seringkali kurang akurat dan kurang efektif dalam mengendalikan persediaan.

Kedua metode penghitungan persediaan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Metode persediaan perpetual lebih akurat dan efektif dalam mengendalikan persediaan, sementara metode persediaan periodik lebih sederhana dan lebih murah untuk diimplementasikan.

Pilihan antara kedua metode tersebut tergantung pada kebutuhan perusahaan dan jenis persediaan yang dihitung.

Baca juga: Akuntansi Keuangan: Pengertian, Laporan, Metode, dan Prinsipnya

akuntansi persediaan 2

Apa Saja Metode Pencatatan Persediaan?

Akuntan perlu menentukan apakah akan menggunakan metode first ini first out (FIFO), last in last out (LIFO), metode rata-rata tertimbang, atau metode identifikasi khusus akuntansi persediaan.

Jika inventaris lama lebih murah, dan Anda menggunakannya terlebih dahulu, Anda akan memilih metode akuntansi FIFO. Atau, Anda dapat a menggunakan inventaris terbaru dan termahal menggunakan metode akuntansi LIFO.

Jika FIFO dan LIFO tidak akan cocok untuk bisnis Anda karena satu dan lain alasan, Anda bisa memilih metode rata-rata tertimbang atau metode identifikasi khusus.

Metode rata-rata tertimbang dari akuntansi inventaris menggunakan biaya rata-rata dari total inventaris Anda diperoleh nilai untuk setiap item persediaan.

Sedangkan metode identifikasi khusus melibatkan pelacakan biaya setiap item inventaris secara terpisah dan membebankan biaya spesifik suatu item ke biaya penjualan barang.

Lanjutkan membaca untuk mempelajari lebih lanjut tentang setiap jenis-jenis pencatatan inventaris.

Baca juga: Akuntansi Biaya Penuh: Pengertian, Cara Menghitung dan Contohnya

Metode Akuntansi Persediaan FIFO

Saat menggunakan metode FIFO, akuntan menganggap barang yang dibeli atau diproduksi pertama digunakan atau dijual terlebih dahulu, sehingga barang yang tersisa dalam stok adalah yang terbaru.

Metode FIFO selaras dengan pergerakan persediaan di banyak perusahaan, yang membuatnya menjadi pilihan yang umum digunakan.

Harga barang yang naik setiap tahun membuat akuntan menganggap barang paling awal adalah yang pertama digunakan kemudian dibebankan pada unit yang paling murah ke harga pokok penjualan terlebih dahulu.

Akibatnya, biaya barang cenderung lebih rendah dan menghasilkan jumlah pendapatan operasi yang lebih tinggi dan lebih banyak pajak yang harus dibayar.

Ini juga berarti perusahaan menggunakan item terlama terlebih dahulu dan tidak perlu khawatir tentang tanggal kedaluwarsa atau inventaris yang tidak bergerak.

Contoh

Anggaplah sebuah perusahaan memiliki persediaan 100 unit barang dengan harga pembelian sebagai berikut:

  • 50 unit dengan harga Rp. 10.000 per unit (pembelian pertama)
  • 30 unit dengan harga Rp. 12.000 per unit (pembelian kedua)
  • 20 unit dengan harga Rp. 15.000 per unit (pembelian ketiga)

Perusahaan menjual 80 unit barang pada suatu periode. Dalam hal ini, metode FIFO akan menghitung harga pokok persediaan (HPP) dan laba atas penjualan sebagai berikut:

  • Harga Pokok Persediaan (HPP):

Perhitungan HPP menggunakan urutan pertama masuk, pertama keluar. Oleh karena itu, 80 unit barang pertama yang dibeli akan dianggap telah terjual, sedangkan 20 unit sisanya dianggap masih tersisa di persediaan.

Dalam hal ini, HPP dapat dihitung dengan cara berikut:

  • 50 unit dengan harga Rp. 10.000 per unit = Rp. 500.000
  • 30 unit dengan harga Rp. 12.000 per unit = Rp. 360.000
  • Total HPP = Rp. 500.000 + Rp. 360.000 = Rp. 860.000
  • Laba atas Penjualan:

Laba atas penjualan dihitung dengan mengurangi total pendapatan penjualan dengan HPP. Dalam hal ini, misalkan perusahaan menjual 80 unit barang tersebut dengan harga Rp. 14.000 per unit, maka pendapatannya adalah Rp. 1.120.000.

Laba atas penjualan dapat dihitung dengan cara berikut:

  • Total pendapatan penjualan = 80 unit x Rp14.000 per unit = Rp. 1.120.000
  • HPP = Rp. 860.000
  • Laba atas penjualan = Total pendapatan penjualan – HPP = Rp. 1.120.000 – Rp. 860.000 = Rp. 260.000

Dalam contoh di atas, perusahaan menggunakan metode FIFO untuk menghitung HPP dan laba atas penjualan.

Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang dibeli pertama kali akan terjual pertama kali dan barang yang dibeli terakhir akan tersisa di persediaan.

Baca juga: Analisis Rasio Akuntansi: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Metode Akuntansi Persediaan LIFO

Akuntan yang memilih metode LIFO menganggap barang yang dibeli atau diproduksi terakhir akan dijual terlebih dahulu, sehingga barang yang tersisa dalam stok adalah yang terlama.

Dengan demikian, metode ini tidak mengikuti aliran persediaan alami sebagian besar perusahaan dan sudah dilarang oleh IFRS.

Ketika harga naik, unit terakhir yang dibeli adalah yang pertama kali digunakan, sehingga harga pokok barang cenderung lebih tinggi dan menghasilkan jumlah laba operasi yang lebih rendah dan pajak pendapatan yang harus dibayar lebih sedikit.

Contoh

Masih dengan contoh yang sama seperti pada metode FIFO, perusahaan menjual 80 unit barang pada suatu periode namun menggunakan metode LIFO.

Sehingga cara menghitung harga pokok persediaan (HPP) dan laba atas penjualannya akan sebagai berikut:

Harga Pokok Persediaan (HPP):

Perhitungan HPP menggunakan urutan terakhir masuk, pertama keluar. Oleh karena itu, 80 unit barang terakhir yang dibeli akan dianggap telah terjual, sedangkan 20 unit sisanya dianggap masih tersisa di persediaan.

Dalam hal ini, HPP dapat dihitung dengan cara berikut:

  • 20 unit dengan harga Rp. 15.000 per unit = Rp. 300.000
  • 30 unit dengan harga Rp. 12.000 per unit = Rp. 360.000
  • 30 unit dengan harga Rp. 10.000 per unit = Rp. 300.000
  • Total HPP: Rp. 300.000 + Rp. 360.000 + Rp. 300.000 = Rp. 960.000
  • Laba atas Penjualan:

Laba atas penjualan dihitung dengan mengurangi total pendapatan penjualan dengan HPP. Dalam hal ini, misalkan perusahaan menjual 80 unit barang tersebut dengan harga Rp. 14.000 per unit, maka pendapatannya adalah Rp. 1.120.000.

Laba atas penjualan dapat dihitung dengan cara berikut:

  • Total pendapatan penjualan = 80 unit x Rp. 14.000 per unit = Rp. 1.120.000
  • HPP = Rp. 960.000
  • Laba atas penjualan = Total pendapatan penjualan – HPP = Rp. 1.120.000 – Rp. 960.000 = Rp. 160.000

Baca juga: Accrued Expense: Pengertian Lengkap dan Contohnya dalam Akuntansi

Metode Akuntansi Persediaan Rata-Rata Tertimbang

Perusahaan yang memilih metode rata-rata tertimbang hanya memiliki satu model persediaan.

Mereka juga memasukkan biaya pembelian inventaris baru ke dalam biaya inventaris yang ada untuk menentukan biaya rata-rata tertimbang baru yang disesuaikan kembali karena lebih banyak inventaris dibeli atau diproduksi.

Contoh

Misalkan suatu perusahaan memiliki persediaan barang sebanyak 200 unit dengan harga pembelian sebagai berikut:

  • 100 unit dengan harga Rp. 10.000 per unit
  • 50 unit dengan harga Rp. 12.000 per unit
  • 50 unit dengan harga Rp. 15.000 per unit

Maka, total biaya pembelian barang adalah:

(100 x Rp. 10.000) + (50 x Rp. 12.000) + (50 x Rp. 15.000) = Rp. 2.350.000

Sedangkan, total jumlah barang yang tersedia adalah:

100 + 50 + 50 = 200 unit

Dalam hal ini, HPP dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

  • Total biaya pembelian barang = Rp. 2.350.000
  • Total jumlah barang yang tersedia = 200 unit
  • Harga rata-rata tertimbang per unit = Total biaya pembelian barang / Total jumlah barang yang tersedia = Rp. 2.350.000 / 200 unit = Rp. 11.750 per unit

Jadi, HPP per unit barang dalam persediaan adalah Rp. 11.750. Jika perusahaan menjual 150 unit dari persediaan tersebut, maka HPP dan laba atas penjualan dapat dihitung sebagai berikut:

  • Harga Pokok Persediaan (HPP):

HPP dihitung dengan mengalikan jumlah unit barang yang terjual dengan HPP per unit barang dalam persediaan.

  • 100 unit x Rp. 11.750 per unit = Rp. 1.175.000
  • 50 unit x Rp. 11.750 per unit = Rp. 587.500

Total HPP = Rp. 1.175.000 + Rp. 587.500 = Rp. 1.762.500

  • Laba atas Penjualan:

Laba atas penjualan dihitung dengan mengurangi total pendapatan penjualan dengan HPP. Dalam hal ini, misalkan perusahaan menjual 150 unit barang tersebut dengan harga Rp. 13.000 per unit, maka pendapatannya adalah Rp. 1.950.000.

Laba atas penjualan dapat dihitung dengan cara berikut:

  • Total pendapatan penjualan = 150 unit x Rp. 13.000 per unit = Rp. 1.950.000
  • HPP = Rp. 1.762.500
  • Laba atas penjualan = Total pendapatan penjualan – HPP = Rp. 1.950.000 – Rp. 1.762.500 = Rp. 187.500

Baca juga: Akuntansi Forensik: Pengertian, Jenis, dan Perbedaannya dengan Audit

Metode Akuntansi Persediaan Identifikasi Spesifik

Metode ini digunakan ketika barang yang tersedia di persediaan memiliki karakteristik yang unik atau identitas yang dapat ditentukan. Dalam metode ini, biaya persediaan dihitung berdasarkan biaya spesifik dari setiap barang yang keluar.

Karena metode akuntansi inventaris ini membutuhkan banyak pelacakan data, metode ini paling cocok untuk barang-barang berbiaya tinggi.

Contoh

Salah satu contoh metode identifikasi spesifik adalah sistem inventarisasi berbasis barcode. Sistem ini bekerja dengan memberikan label barcode pada setiap item inventaris yang kemudian dicap di sistem persediaan dengan nomor seri, tanggal penerimaan, atau informasi penting lainnya.

Ketika suatu item dijual, sistem secara otomatis memperbarui persediaan dengan mengurangi jumlah item dari inventaris dan merekam informasi penjualan yang terkait, seperti tanggal dan jumlah penjualan.

Metode ini memungkinkan perusahaan untuk melacak setiap item inventaris secara individu.

Sehingga memudahkan dalam memperbarui persediaan, mengetahui jumlah stok yang tersedia, menghindari kerugian karena kehilangan atau pencurian barang, dan memungkinkan perusahaan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan.

Baca juga: Pengertian Akrual Adalah: Berikut Penjelasan Lengkap, Contoh dan Prinsipnya dalam Akuntansi

Apa Saja Komponen Persediaan?

Barang-barang yang termasuk dalam persediaan adalah barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan dijual atau digunakan dalam proses produksi.

Adapun jenis barang yang harus dimasukkan ke dalam persediaan tergantung pada jenis bisnis yang dijalankan.

Secara umum, barang-barang yang termasuk dalam persediaan antara lain:

  1. Bahan baku: Barang mentah atau bahan-bahan yang akan diproses lebih lanjut untuk membuat produk akhir.
  2. Barang dalam proses: Barang yang sedang dalam proses produksi dan belum selesai sepenuhnya.
  3. Barang jadi: Produk yang sudah selesai dan siap untuk dijual.
  4. Barang dalam perjalanan: Barang yang telah dipesan oleh pelanggan tetapi belum sampai di gudang atau tempat penyimpanan.
  5. Barang yang dikirim oleh pemasok: Barang yang telah dipesan oleh perusahaan dan sedang dalam perjalanan menuju gudang atau tempat penyimpanan.
  6. Barang yang dikembalikan oleh pelanggan: Barang yang dikembalikan oleh pelanggan karena rusak atau tidak sesuai dengan pesanan.
  7. Barang yang disimpan sebagai cadangan: Persediaan yang disimpan sebagai cadangan atau pengganti ketika terjadi kekurangan persediaan.

Dalam mencatat persediaan, perusahaan biasanya mencantumkan informasi seperti kuantitas, harga beli, nilai persediaan, dan tanggal pembelian.

 Baca juga: Mengetahui Berbagai Macam Rasio Pada Akuntansi

Bagaimana Cara Pelaporan Persediaan pada Laporan Keuangan?

Persediaan merupakan salah satu komponen dalam laporan keuangan perusahaan yang biasanya dilaporkan pada bagian neraca.

Persediaan mewakili nilai barang dagangan atau bahan mentah yang dimiliki oleh perusahaan dan masih tersedia dalam gudang atau dalam proses produksi.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan persediaan di laporan keuangan:

Penilaian persediaan

Metode penilaian persediaan yang digunakan oleh perusahaan harus dilaporkan di laporan keuangan.

Hal ini penting karena metode penilaian yang digunakan dapat memengaruhi jumlah persediaan yang dilaporkan dan juga dapat memengaruhi laba kotor yang dilaporkan di laporan laba rugi.

Nilai persediaan

Persediaan dilaporkan pada neraca dengan nilai terkini (current value), yaitu nilai yang dapat diperoleh jika persediaan tersebut dijual pada saat neraca dibuat.

Nilai persediaan biasanya dihitung dengan menggunakan metode penilaian persediaan yang telah dipilih.

Pengungkapan informasi

Perusahaan harus memberikan informasi yang cukup mengenai persediaan di laporan keuangannya.

Hal ini termasuk informasi mengenai metode penilaian yang digunakan, nilai persediaan, komponen persediaan (barang dagangan atau bahan mentah), dan jumlah persediaan yang tersedia.

Pengecekan persediaan

Perusahaan harus melakukan pengecelam terhadap persediaan secara berkala untuk memastikan keakuratan informasi yang dilaporkan di laporan keuangan.

Pengecekan persediaan ini juga berguna untuk menemukan adanya kemungkinan terjadinya kerugian atau penyusutan atas persediaan yang tidak terjual.